Matanya menatapku. “Jangan. Vidio Porno “Ada apa?” tanyaku. Saat itu jemarinya sudah masuk ke dalam celana dalamku, mengelus, lalu menggenggam batang kemaluanku. Aku terbangun dengan tubuh tertekuk, telanjang dan pegal, mendapati dirinya tak ada di sampingku. Kutekan saklar lampu. Maaf kalau membuatmu tersinggung. Kutatap matanya. Setelah itu ia berpaling menatap ke luar jendela samping. Semua yang sudah kulalui. Akhirnya, dengan rasa nyeri di ujung, batang kemaluanku melesak. Nafsuku membuatku memalingkan wajah dan menciumi kulit perutnya, sementara sebelah lenganku merangkul pinggangnya. Lonjakan-lonjakan jantungku membuat mataku terpejam. Alisnya berkerut, bibirnya setengah terbuka, seolah hendak mengatakan sesuatu. “Letakkan tanganmu di sini,” bisiknya. Dengan sedikit gugup-diiringi tawanya yang tiada henti-akhirnya aku berhasil membuka semua pakaian yang dikenakan olehnya. Seperempat jam kemudian setelahnya, kami sudah saling bercanda tentang setiap orang yang menghadiri resepsi tersebut.




















