Lalu aku berdiri, dan aku lepas CD-ku. Vidio Bokep Ternyata Tari. Aku tidak tahan. Setiap kali konfrensi pers Tari bersikap biasa, seolah tidak pernah ada apa-apa di antara kami. Ketiak yang basah oleh keringat dan air iur itu semakin mengkilap. Kubiarkan TV menyala sebagai pengantar tidur. Mengangkat kepalaku, lalu kedua kakinya menjepit bahuku, dan dengan cepat akupun terguling di sampingnya. Kali ini sendirian, jadinya ya takut”. Alangkah indahnya pemandangan itu. Makin nikmat. Aku usap rambutnya, aku cium keningnya yang basah oleh keringat, dan aku katakan, “Terima kasih Sri Lestari amoyku. Labianya gelap. “Auww!”, dia berteriak tertahan.Akhirnya aku tidak sabar. “Aku!”, cuma itu teriakannya, lalu menelungkup di atas tubuhku, dengan posisi serong, sehingga posisi tubuh kami seperti huruf T.




















