Entah kenapa aku jadi merasa kasihan. Kesempatan bagiku untuk kabur dan rumah neraka ini. Bokep Ojol Tidak ada satupun yang melirik apa lagi memperhatikan lamaran dan ijazahku. Tapi aku perlu yang bisa setir mobil. Bi Minah kembali tersenyum. Keputusasaan mulai menghinggapi diriku. Aku tahu apa yang diinginkan Nyonya Wulandari. Aku memeluk punggungnya yang terbuka, dan merasakan kehalusan kulit punggungnya yang basah berkeringat. Aku sempat terlunta-lunta, tanpa ada seorangpun yang mau peduli. Sedangkan untuk kembali ke kampung, rasanya malu sekali karena gagal menaklukan kota metropolitan yang selalu menjadi tumpuan orang-orang kampung sepertiku.Seperti hari-hari biasanya, siang itu udara di Jakarta terasa begitu panas sekali. Semuanya aku simpan di bank.




















