Tangan satunya terus nyibak kain saya, sampai ke dekat pinggang… Duh, biyung, sedang diapakan saya ini? Bokef Ghooh!”Mata saya melotot, mulut saya nganga, mungkin lidah saya menjulur keluar, saya sudah nggak peduli semesum apa tampang saya selagi saya menjerit keenakan itu. Mungkin saban hari saya menangis, sedih mengingat Simbok, juga kesepian. Cari kerja yang nggak perlu ijazah, saingan banyak sekali. Sesudah hari itu, ada yang berubah dalam kehidupan saya. Simbok akhirnya nekat mengajak saya pindah ke Ibükota mencari penghidüpan“Denok, kita ndak bisa apa-apa lagi di sini, di kota kita bisa coba cari uang, mudah-mudahan di sana mendingan daripada di sini,” kata Simbok.Saya cuma lulusan SMP, Simbok lulusan SD. Saya nggeletak nggak karuan di ranjang Juragan, mandi keringat, ngos-ngosan.“Itu buat kamu,” kata Juragan.




















