Sejenak
aku agak grogi karena baru pertama kali melihat tubuh wanita selain istiku setengah telanjang, tapi
bagaimanapun aku harus melaksanakan kewajibanku. Kuelus bukit
kemaluannya dari luar CD yang ia kenakan, Herlin melenguh, “oouuhh.. Bokef Barangku memang tidak panjang, bahkan bisa dikatakan ukuran mini. kamu lihat juga
dong, susuku kan kecil juga. ehm.. Auuhh.. barangku kecil.. ”
“Vitoo.. ehm.. ekonomiku
pas-pasan, dan yang terutama, aku sudah punya istri dan anak.. “Kamu tinggal sendiri di sini?” tanyaku. Bercintalah denganku
Vito..” Aku cuma bisa duduk diam kayak orang bego. Herlin tersenyum dan memberikan kartunamanya kepadaku. “aauuhh..aahh.. “Siang, bisa bicara dengan Pak Vito?” “Ya, saya sendiri, dengan siapa saya bicara?” “Oh, ini Pak Vito? terus.. “Herlin, jujur saja aku baru pertama kali menghadapi keluhan seperti ini. “Aku siap
untuk menerimamu sayang..” Setelah ia mengatakan ini, aku langsung berlutut di depannya dan kupeluk dia
erat-erat.




















