“Dimas… Kamu hebat. Video bokep Aku malu setengah mati. Ati-ati ya…”, sahuntuku cepat berharap Rani segera pulang. Ah biarin aja lah. Kualihkan pandanganku ke ruang siaran. Tidak jelas apa yang diucapkan. Aku hanya tersenyum aja mendengarnya.Perlahan ciumanku naik ke perut Mbak Titis. “Marketingnya lagi keluar semua, Mas?”
Aku kaget bukan main mendengar pertanyaan itu. Aku jawab aja udah. “Iya, Bu”, jawabku cepat sambil mengalihkan pandanganku. Kualihkan pandanganku ke ruang siaran. Aku biasa menyebutnya dengan Ibu Titis.Ibu Titis tingginya kira-kira 170cm, bahkan lebih tinggi dari suaminya. Jam segini kok udah pulang Bu?”, sapaku. Aku ambil cuti kuliah untuk bekerja di sebuah radio swasta yang baru berdiri. Sesekali aku mendesah sambil menyebut Ibu Titis. Padahal aku grogi setengah mati takut ketauan boongnya. Jam segini kok udah pulang Bu?”, sapaku. Ibu masuk dulu ya”, katanya lagi sambil berlalu dengan tetap memberikan senyum.




















