Hanya itu. Bokeb Jantungku berdebar-debar. Tekanan dada Kak Tina, beradu dengan tekanan punggungku. Seerr, darahku semakin berdesir. Kak Tina pasti sedang merapikan dirinya. Kak Tina membuka lebar pahanya. “Barusan ya?”. “Capek, Kamu makin lama tambah berat. Bikin malu saja”, Kata Kak Tina. Hanya itu saja. “Emangnya..?” tanyaku heran. Kabar yang dibawanya dari dokter membuat seisi rumah tersentak. “Benar. Kamipun duduk di pinggir tempat tidur. Aku segera menyudahi keasyikanku. “Mimpi basah?”. Kuambil Nick Carter. Untung sisanya telah mengering. Dapat kurasakan kehangatan dada perawannya. “Capek, Kamu makin lama tambah berat. Saya belum pernah Kak Tina ijinkan membacanya”. Dapat kurasakan kehangatan dada perawannya. “Kak, Saya bisa pinjam nggak?”. Pantas, Kak Tina tak mengijinkanku membacanya, pikirku. Juga Nick Carter.Aku tidak diijinkannya membaca novel-novel stensilan itu. Bukan, beliau orang baik (sampai sekarang aku selalu mengingatnya, ayah angkatku itu).




















