Saat itu pandangan mataku jadi nanar dan berkunang-kunang. “Sudah jangan banyak tanya. Bokep crot “Iya, Tante”, sahutku.Dan memang tepat jam tujuh malam aku datang ke rumah Lidya. Pernah aku menangis semalaman dan mengurung diri di dalam kamar hanya karena Mbak Indira menikah. Tiba-tiba saja Lidya. Lidya mulai menciumi wajah dan leherku. Tiba-tiba saja Lidya. Dia malah tersenyum. Dan kebetulan sekali aku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yg cukup keren. Aku menatapnya dgn tajam. Tiba-tiba saja Lidya. Lidya kembali mencium dan melumat bibirku. Aku memang tumbuh menjadi anak yg manja. Namun aku disambut Lidya yg memakai baju seperti mau pergi ke pesta saja. Sedangkan aku tetap diam, tak memberikan reaksi apa-apa. “Iya.”
“Memangnya ada apa?” tanyaku lagi. Lidya memang pantas kecewa, karena alat kejantananku mendadak saja layu.




















