Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Sial. Bokep Colmek Jendela kubuka. Mendadak jari tanganku dingin semua.Wajahku merah padam. Atau apalah? Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh.Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Aku tiduran sambil baca majalah yang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu. Mobil melaju. Si Junior melemah. Ia cukup lama bermain-main di perut. Sekenanya saja kubuka halaman majalah.“Tunggu ya..!” ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima kedatanganku.“Mbak Hawin.., udah ada pasien tuh,” ujarnya dari ruang sebelah. Mengapa kancing baju cuma tujuh?Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak di sebelahku juga bisa.




















