Kamu itu main dua kali 45 menit, bukannya cuman setengah jam. Aku hampir-hampir tak percaya dia mengatakan itu. Bokep Montok Dan sejak itu pemandangan sekilas itu selalu menjadi obsesiku. Keluar dari kamarmandi dengan sarung dan singlet dan handuk yang membalut tengkuk, kedua pundak dan lengan kulihat Tante Ratih sudah di dapur menyiapkan sarapan. Kotaku itu adalah kota yang masih kolot, apalagi di lingkungan tempat aku tinggal. Wajah itu juga kelihatan letih sekali. Kecantikannya jadi buah bibir para cowok lanang seantero kota. Aku juga nekad mencoba kalau mereka main catur di rumah Tante Ratih. Memang kebiasaanku bangun pagi-pagi sekali. Karena itu Tante Ratih mematikan televisi dan mengajak aku berbincang menanyakan sekolahku, kegiatanku sehari-hari dan apakah aku sudah punya pacar atau belum.




















