Informasi ini kuteruskan ke Sherly yang tidak mengerti sama sekali perkataan si Kumis.Dengan enggan kami membalik badan kami menghadap tembok. Bokeb Si Kumis masih saja mengacak-acak koper itu seakan mencari sesuatu yang hilang. Meja itu dipenuhi oleh uang receh, permen, sapu tangan dan kertas-kertas tak berguna dari isi kantong kami berdua.Kemudian setelah harus mencerna hampir lima kali kata-kata yang tak jelas dari si Kumis (yang ternyata adalah atasan si Brewok dan si Tegap), aku menyadari bahwa ia menyuruh kami untuk membuka pakaian kami. Lalu ia mengatakan beberapa kalimat yang sulit dipahami. Lalu ia membuka koper itu dan mulai mengacak-acak isinya.Isi koper itu hanyalah pakaian-pakaian dan peralatan kosmetik Sherly.




















